
KONTEN
| Buku | 14 |
| Makalah | 84 |
| Tanya Jawab | 3328 |
| Kegiatan | 628 |
| Liputan Media | 334 |
| Galeri Foto | 2230 |
Anda Pengunjung Ke:
1974546
| February | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Sun | Mon | Tue | Wed | Thu | Fri | Sat |
| 29 | 30 | 31 | 1 | 2 | 3 | 4 |
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 1 | 2 | 3 |
Kamis, 17 Juni 2010
Koran Jakarta
JAKARTA – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak pernah menginstruksikan anggota Dewan Pertimbangan Presiden Jimly Asshiddiqie untuk mendaftar menjadi calon pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Meski demikian, Presiden memahami keputusan Jimly mendaftar menjadi Ketua KPK.
“Bukan berarti itu adalah instruksi atau arahan dari Presiden,” kata Juru Bicara Kepresidenan, Julian Pasha, di kantor Kepresidenan Jakarta, Rabu (16/6).
Julian mengatakan hal itu ketika diminta tanggapannya oleh wartawan tentang anggapan bahwa Jimly adalah tokoh yang dititipkan pemerintah dalam bursa calon pemimpin KPK.
Menurut Julian, Presiden memahami bahwa keputusan Jimly mendaftarkan diri menjadi calon pemimpin KPK adalah keputusan pribadi.
Dia juga menegaskan Presiden menyerahkan mekanisme pemilihan pemimpin KPK kepada Panitia Seleksi Calon pemimpin KPK tanpa intervensi apa pun.
Sementara itu, Deputi Penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ade Rahardja menyatakan dirinya memiliki alibi tidak pernah menerima suap dari Anggodo Widjaja lewat Ari Muladi.
Ade menyatakan nomor telepon yang dipakai seseorang untuk berkomunikasi dengan Ari Muladi sebanyak 64 kali bukanlah miliknya.
“Enggak, itu enggak benar, coba cek di CDR (call data record) HP saya. Itu kan bukan nomor HP saya,” kata Ade Rahardja di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (16/6).
Ade juga menyatakan siap bersaksi pada sidang Anggodo Widjaja Selasa pekan depan.
ito/don/N-1
Arsip Berita

