Headercontent

Cari Buku

KONTEN
Buku14
Makalah14
Tanya Jawab450
Kegiatan229
Liputan Media309
Galeri Foto1956


Anda Pengunjung Ke:
89561
September
SunMonTueWedThuFriSat
31123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
2829301234
4-thumb Punya Enam Presiden Tapi Pelit Komunikasi

http://tribunbatam.co.id/berita_utama/punya_enam_presiden_tapi_pelit_komunikasi

    
Rabu, 16-07-2008 | 00:56:11 
JAKARTA, TRIBUN - Nama Mohammad Natsir tidak setenar Bung Karno dan Hatta atau Tan malaka. Padahal, pendiri partai Masyumi itu adalah seorang pemimpin yang ikut mengubah sejarah Indonesia.

Sebagian rakyat Indonesia masih salah menilai tokoh besar ini karena pendukung gerakan pemberontakan PRRI/Permesta. “Justru Natsir itu adalah seorang nasionalis sejati,” kata Budayawan Burhan Magenda pada Diskusi “Refleksi Seabad M Natsir” di Mahkamah Konstitusi (MK) Jakarta, Selasa (15/7).

Natsir mampu mengembalikan NKRI yang terpecah-belah dalam Republik Indonesia serikat (RIS). Namun mantan Perdana Menteri ini pernah diburu ke hutan dan dipenjara bersama para pemimpin PRRI (Pemerintah Revolusioner RI) tahun 1956.

Bagi Wakil Presiden Jusuf Kalla, Natsir adalah contoh pemimpin yang demokratis. Sebab, ia tetap menjalin silaturahmi dengan para lawan-lawan politiknya. Indonesia, kata dia, sudah memiliki enam presiden, tetapi tidak berkomunikasi satu sama lain.

“Dalam republik ini tidak ada yang saling ngomong. Bung Karno tidak bicara Pak Harto. Lalu Pak Harto tidak bicara dengan Habibie, Habibie tidak bicara dengan Gus Dur, Gus Dur tidak bicara dengan Megawati, dan Megawati tidak bicara dengan SBY,” ujar Kalla saat memberikan sambutan.

Pahlawan nasional
Anggota DPR RI Sabam Sirait mengatakan, Natsir yang lahir 17 Juli 1908 di Sumatera Barat dan wafat tahun 1993 mengembangkan kehidupan pribadi yang sederhana dan jauh dari kecintaan kepada harta.

Natsir juga dikenal sebagai tokoh berpolitik dengan kata-kata sopan dan sepantasnya tanpa menimbulkan ketersinggungan pribadi. Natsir tidak mau “menghabisi” orang-orang yang tidak sepaham dengannya dengan menghalalkan segala cara. “Dalam pergaulan sehari-hari maupun pergaulan politik, dia tetap menjalin persahabatan,” katanya.

Menurut tokoh PDIP itu, Natsir lebih dari pantas diberi kehormatan sebagai pahlawan nasional bersama teman-temannya pejuang kemerdekaan, seperti Sjahrir, Amir Sjarifoeddin, Sjafroeddin Prawiranegara dan Tan Malaka.(persda network/ade/ant)

 



Arsip Berita
CopyRight © jimly.com 2007 - 2008