
KONTEN
| Buku | 14 |
| Makalah | 41 |
| Tanya Jawab | 1903 |
| Kegiatan | 383 |
| Liputan Media | 331 |
| Galeri Foto | 2230 |
Anda Pengunjung Ke:
576254
| March | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Sun | Mon | Tue | Wed | Thu | Fri | Sat |
| 28 | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 |
| 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 |
| 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 |
| 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 |
| 28 | 29 | 30 | 31 | 1 | 2 | 3 |
|
Jimly Assidiqie: Tumpak Masih Menjabat Di KPK Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Jimly Asshidiqie menyatakan penghentian Tumpak Hatorangan Panggabean masih menjabat di Komisi Pemberantasan Korupsi meski Komisi III DPR menolak Perpu No 4 Tahun 2009. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu menyatakan, ketika Perpu ditolak, Perpu tersebut harus dicabut dengan menerbitkan Undang-Undang pencabutan perp. "Jadi selama undang-undang itu belum ada, berarti Pak Tumpak masih menjabat di KPK. Mengenai Hal pencabutan Perpu tersebut, menurut Jimmly, telah diatur dalam Pasal 25 Undang-Undang No 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. “Jadi lebih baik anggota dewan segera membuat rancangan undang-undang untuk mencabut perpu tersebut,” kata Jimmly. |
|
Jimly Asshiddiqie Berkunjung ke KPK nggotaDewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Jimly Asshiddiqie mengunjungi kantor KPK, di Jalan Rasuna Said, Jakarta, Rabu, (3/3/2010), untuk menghimpun masalah yang akan menjadi diskusi. Materi tersebut khsusnya menyangkut dengan pemberantasan korupsi di masa depan. "Jadi masalah apa yang dihadapi oleh masing-masing lembaga penegak hukum. Khususnya, lembaga pemberantasan korupsi," kata Jimly. |
|
Jimly: Tingkat Peradaban Kita Masih Agak Kampungan Ricuh di sidang paripurna DPR pengambilan keputusan tentang kasus Bank Century mencerminkan tingkat peradaban bangsa Indonesia yang masih lemah. Semestinya kericuhan yang mencoreng wajah parlemen itu tidak terjadi. Rachmadin Ismail - detikNews |
|
Wantimpres Optimistis Bisa Kerja Efektif Jakarta (ANTARA News) - Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang baru dilantik optimistis menjalankan tugas secara efektif memberi nasehat dan masukan kepada Presiden dalam menjalankan tugas pemerintahan, demikian salah satu anggota Wantimpres Jimly Asshiddiqie, usai pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Senin. Menurut Jimly, dibandingkan dengan lembaga sejenis semasa Orde Baru yaitu Dewan Pertimbangan Agung (DPA), posisi Wantimpres lebih dekat kepada Presiden karena melekat kepada Kepala Negara, bukan sebagai lembaga terpisah. Sebelum dilantik, Jimly mengungkapkan, Wantimpres baru sudah bertemu dengan Presiden pada Minggu malam 24 Januari 2010 dan Presiden berharap Wantimpres dapat memberi masukan terhadap masalah-masalah mendasar dalam penyelenggaraan pemerintahan. "Kalau memberi masukan yang bisa efektif itu hanya masalah cara, masalah seni menyampaikan. Saya yakin Wantimpres bisa," kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu. Anggota Wantimpres lainnya, mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Ginandjar Kartasasmita, mengatakan sampai saat ini Wantimpres belum menerima rincian dan pembagian tugas, sebaliknya baru menyampaikan bahwa lembaga ini penting. "Gambarannya adalah memberikan masukan untuk masalah-masalah mendasar bidang konstitusi, demokrasi, hubungan pusat daerah, internasional, dan lain-lain. Tapi secara rinci belum diberitahu," tutur Ginandjar. Sedangkan mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari berjanji tetap kritis memberi saran dan pertimbangan kepada Presiden agar kebijakan pemerintah tetap berpihak kepada rakyat. Siti mengaku telah diberitahu akan menjabat Wantimpres sejak penyusunan Kabinet Indonesia Bersatu Kedua oleh Menteri Sekretaris Negara kala itu Hatta Radjasa. "Sebagai prajurit, saya mengatakan siap bertugas di mana saja kalau masih dipakai," ujarnya. Presiden Yudhoyono, Senin, melantik sembilan anggota Wantimpres periode 2010-2014, yaitu Emil Salim, Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma`ruf Amin, Mantan Meneg Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta, Ginandjar Kartasasmita, Jimly Asshiddiqie, Hassan Wirajuda, M Ryaas Rasyid, Siti Fadilah Supari, dan Mantan Menko Polhukam Widodo AS. Emil Salim dan Ma`ruf Amin menjabat Wantimpres untuk kedua kalinya.(*)www.antaranews.com |
|
SBY Lantik 9 Anggota Wantimpres GAMBIR (Pos Kota) – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melantik sembilan anggota dewan pertimbangan presiden (Wantimpres) periode 2010-2014 di Istana Negara, Jakarta, Senin siang. Dari sembilan nama itu, empat orang di antaranya mantan menteri di Kabinet Indonesia Bersatu pada pemerintah SBY-JK. Mereka yang dilantik itu, mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Emil Salim, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma`ruf Amin, mantan Meneg Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta, mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Ginandjar Kartasasmita, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, mantan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah M Ryaas Rasyid, Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, dan Mmntan Menko Polhukam Widodo AS. Jimly menyatakan usai dilantik menyatakan, Wantimpres pasti dapat berperan efektif dalam memberikan saran dan pertimbangan kepada Presiden. “Kami optimis dapat menjalankan tugas secara efektif untuk memberi nasehat dan masukan bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam menjalankan tugas pemerintahan,” kata Jimly. Ia mengatakan anggota Wantimpres yang baru sudah bertemu dengan Presiden pada Minggu malam 24 Januari 2010. Pada pertemuan itu, Presiden berharap Wantimpres dapat intensif memberi masukan terhadap masalah-masalah mendasar dalam penyelenggaraan pemerintahan. Sedangkan Ginandjar Kartasasmita, mengatakan sampai saat ini Wantimpres belum menerima perincian dan pembagian tugas. “Presiden baru menyampaikan bahwa Dewan Pertimbangan Presiden itu penting dan mengharapkan nasehat serta pandangan, tapi apa-apanya nanti,” tutur Ginanjar. Sementara itu, Siti Fadilah Supari berjanji untuk tetap kritis memberi saran dan pertimbangan kepada Kepala Negara agar kebijakan pemerintah tetap berpihak kepada rakyat. ”Saya telah diberi tahu akan menjabat Wantimpres sejak penyusunan Kabinet Indonesia Bersatu Kedua,” paparnya. Adnan Buyung Basution mengaku tidak merasa kecewa karena tidak terpilih lagi menjadi anggota Watimpres. Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya anggota Watimpres mendapat akses yang tepat waktu sehingga bisa memberikan nasihat pada waktu yang tepat kepada presiden. “Jadi jangan sampai terlambat dalam memberikan nasihat kepada presiden,” tutur dia. (johara/sir)(www.poskota.co.id) |

