
KONTEN
| Buku | 14 |
| Makalah | 84 |
| Tanya Jawab | 3334 |
| Kegiatan | 628 |
| Liputan Media | 334 |
| Galeri Foto | 2230 |
Anda Pengunjung Ke:
2001516
| February | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Sun | Mon | Tue | Wed | Thu | Fri | Sat |
| 29 | 30 | 31 | 1 | 2 | 3 | 4 |
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 1 | 2 | 3 |
Jimly: Tak Perlu Pengadilan In Absentia, KPK Tangkap Saja Nunun
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie menyatakan, pengadilan in absentia untuk tersangka suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGB BI), Nunun Nurbaeti, tidak diperlukan. KPK harus mampu menangkap dan menyeret Nunun ke persidangan.
"Tidak perlu ada pengadilan in absentia, tinggal ada kemauan atau tidak dari KPK untuk menangkap Nunun," kata Jimly usai Konperensi Pers di Komnas HAM, Jl Latuharhari, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (24/11).
Menurut Jimly, beberapa kali aparat terkait melansir keberadaan istri bekas Wakil Kapolri, Adang Darojatun, itu terendus berada di Singapura dan Thailand. Seharusnya, Nunun dapat dibawa kembali ke Indonesia.
"Tempatnya sudah diketahui, tinggal kesungguhan KPK menangkapnya. Sebenarnya sederhana, tidak ada masalah. Nazaruddin yang lebih sulit saja bisa, apalagi yang dekat," sindir Jimly.
Jimly menambahkan, pengadilan in absentia memiliki celah kekurangan. Bila pola tersebut dilakukan dalam praktik persidangan pemberantasan korupsi, maka akan sulit ditemukan bukti materil dari keternagan Nunun.
"Orangnya ada, saya kira tidak perlu pengadilan inabsentia. Kalau mau sidang tinggal tangkap saja orangnya," tegas Jimly.
www.detik.com
Kembali

