Headercontent

Cari Buku

KONTEN
Buku5
Makalah169
Tanya Jawab5191
Kegiatan807
Liputan Media452
Galeri Foto2335


Anda Pengunjung Ke:
5359850
June
SunMonTueWedThuFriSat
2930311234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293012
482x320_1894-thumbSelasa, 10 Nopember 2015
Ketua DKPP Menjadi Keynote Speaker Seminar di Unhas

 

Makassar, DKPP - Menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2015, Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Sulawesi Selatan, mengadakan seminar nasional. Seminar bertema Menyongsong Pemilihan Kepala Daerah Serentak diadakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unhas di Gedung IPTEKS, Selasa (10/11).

 

Seminar ini menghadirkan Ketua DKPP Prof Jimly Asshiddiqie yang akan diplot sebagai keynote speaker. Selain itu, hadir juga sebagai narasumber Ketua KPU Husni Kamil Manik dan Ketua Bawaslu Prof Muhammad.


“Tujuan seminar ini untuk mengetahui sejauh mana kesiapan daerah-daerah yang akan menyelenggarakan Pilkada serentak pada 9 Desember 2015,” terang Ketua Pelaksana Seminar Gustiana A Kambo.


Peserta seminar adalah para akademisi, penyelenggara Pemilu di Sulsel, dan para praktisi. Harapannya, ujar Gustiana, seminar ini akan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan untuk menyukseskan Pilkada serentak di Indonesia.

 

Sumber : dkpp.go.id

 

 

20151109_160334-thumbSenin, 09 Nopember 2015
"Pembangunan Integritas dan Kepribadian Berkualitas"
Pembicara dalam Persiapan Keberangkatan peserta Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) angkatan ke-48 di wisma hijau, cimanggis depok dengan tema "Pembangunan Integritas dan Kepribadian Berkualitas"
482x320_1895-thumbSenin, 09 Nopember 2015
Prof Jimly: Tiga Poin Penting Untuk Pahami Hakikat Mahkamah Konstitusi

 

Jakarta, DKPP – Mahkamah Konstitusi yang didirikan pada tahun 2003 di Indonesia bukan Mahkamah Konstitusi pertama di dunia. Hal ini disampaikan Ketua DKPP Prof. Jimly Asshiddiqie saat hadir sebagai narasumber pada kegiatan Studium Generale dalam rangakaian acara UIN Law fair 2015 yang bertempat di Auditorium Harun Nasution Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Senin (9/11).

 

“Negara Indonesia bukan pelopor pembentukan Mahkamah Konstitusi. Negara pertama yang mendirikan Mahkamah Konstitusi tahun 1920 adalah Austria, buah pikiran Hans Kelsen. MKRI yang dibentuk tahun 2003 adalah nomor 79 di dunia namun merupakan MK pertama di abad 21,” urai          Prof. Jimly yang disambut tepuk tangan oleh peserta kegiatan Studium Generale UIN Law fair yang mengusung tema “Mahkamah Konstitusi Sebagai Penjaga Hak Asasi dan Demokrasi”.

 

Dijelaskan oleh Prof. Jimly apabila membicarakan hakikat MK ada beberapa poin yang harus dimengerti. Pertama ide tentang demokrasi, kedua ide tentang rule of law dan ketiga tentang human rights atau minority rights. Karena jika demokrasi tidak diimbangi oleh human rights hanya akan menjelma menjadi prosedur-prosedur formal bernegara namun tidak mengarah pada kebaikan dan tidak menjamin keadilan. Maka agar demokrasi baik harus dilengkapi dengan majority rules namun juga majority rights.

 

 

“Maka para ahli selalu membandingkan demokrasi dengan human rights, majority rules dengan majority rights, agar demokrasinya substansial maka ada tiga hal yang harus dipahami dengan tepat. Pertama ide tentang demokrasi, lalu tentang rule of law dan yang ketiga adalah ide tentang human rights. Ketiga poin ini penting untuk memahami hakikat Mahkamah Konstitusi,” ungkap Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2003-2008.

 

Menurut guru besar hukum tata negara Universitas Indonesia itu, kehadiran Mahkamah Konstitusi di Indonesia yang merupakan roh dari reformasi adalah dalam rangka menegakkan prinsip pemerintahan konstitusional. Oleh karena itu diharapkan Mahkamah Konstitusi segera bangun dari keterpurukan dan mampu kembali berperan aktif sesuai dengan fungsinya.

 

“Harapan saya, setelah kasus yang melibatkan ketua MK sebelumnya dan mudah-mudahan kini di bawah kepemimpinan Pak Arif (Ketua MK periode 2013-2016-red) perannya dapat kembali menonjol dalam membina demokrasi dan hak asasi manusia,” pungkas dia.

 

Sumber : dkpp.go.id

20151109_101857-thumbSenin, 09 Nopember 2015
UIN Law Fair 2015, dengan tema "Mahkamah Konstitusi Sebagai Penjaga Hak Asasi dan Demokrasi"
Menjadi narasumber dalam acara UIN Law Fair 2015, dengan tema "Mahkamah Konstitusi Sebagai Penjaga Hak Asasi dan Demokrasi" di Auditorium Prof Harun Nasution Univ UIN Syarif Hidayatuloh Jakarta dengan moderator Prof DR Salman Manggalatung SH MH
Rakor_mk-thumbKamis, 05 Nopember 2015
Samakan Persepsi Pilkada, MK, KPU, Bawaslu dan DKPP Satu Meja

Jakarta, - Mahkamah Konstitusi berkoordinasi dengan Komisi Pemilihan Umum, Badan Pengawas Pemilu dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu di Gedung Mahkamah Konstitusi, Kamis (05/11) pukul 13.30 WIB. Hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua DKPP Jimly Asshiddiqie, Ketua KPU Husni Kamil Manik dan tiga Anggota KPU Sigit Pamungkas, Ida Budhiati dan Hadar Nafis Gumay, serta Ketua Bawaslu Muhammad dan anggota Bawaslu Nelson Simanjuntak, Sekjen Bawaslu Gunawan Suswantoro. Dari MK yang hadir, Arif Hidayat, ketua, Anwar Usman, wakil ketua MK dan Suhartoyo, Maria Farida Idarti, Aswanto dan Wahiddudin Adams, masing-masing sebagai anggota MK serta Sekjen MK Guntur Hamzah.   

Jimly menyampaikan bahwa pertemuan ini merupakan penyamaan persepsi persiapan Pilkada. Dan pihaknya bersyukur MK juga telah menerbitkan Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK) terkait calon tunggal. Jimly yakin pelaksanaan Pilkada akan berjalan lancar. “Kami berkeyakinan seluruh perangkat sistem aturan KPU, Bawaslu, DKPP dan MK siap menyukseskan pelaksanaan Pilkada serentak tahun 2015,” katanya.

 

Jimly menambahkan, pihaknya pun sudah menyampaikan hal yang sama kepada presiden mengenai persiapan pelaksanaan Pilkada ini. Hanya saja, Jimly menilai bahwa pelaksanaan Pilkada  ini kurang semarak. Pasalnya, dalam pelaksaan kampanye dalam Pilkada kali ini dibiyai KPU. Berbeda dengan Pilkada-Pilkada sebelumnya, biaya kampanye ditanggung oleh calon. “Mohon dimaklumi saja. Tapi secara keseluruhan teknis Pilkada sudah siap,”tutupnya.  [ teten jamaludin]



CopyRight © jimly.com 2007 - 2008