Headercontent

Cari Buku

KONTEN
Buku5
Makalah169
Tanya Jawab5251
Kegiatan859
Liputan Media452
Galeri Foto2353


Anda Pengunjung Ke:
6368882
October
SunMonTueWedThuFriSat
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930311234
482x320_2155-thumbSenin, 18 April 2016
Prof Arief Hidayat: Saya Didorong Daftar Hakim MK oleh Prof Jimly

Ketua Mahkamah Konstitusi RI Prof Dr Arif Hidayat tidak menyangka ia bisa menjadi hakim konstitusi sekaligus mengetuai lembaga yang pernah  diketuai oleh Jimly Asshiddiqie.

 “Ketika saya ketemu Prof Jimly, saya didorong  untuk menjadi hakim konstitusi. Namun waktu itu saya belum daftar, karena saat itu saya masih menjadi dekan di Fakultas Hukum Undip. Kemudian selesai, saya mendaftar dan sekarang menjadi ketua lembaga yang pernah diketui oleh Jimly,” katanya saat memberikan testimoni tentang sosok Prof Jimly Asshiddiqie pada acara rilis buku di Aula Lantai dasar Gedung Mahkamah Konstitusi, Jalan Merdeka Barat, Jakarta, Sabtu (16/4).

 Dalam acara ini hadir Ketua DKPP Jimly Asshiddiqie dan keluarga, ketua KPU RI Husni Kamil Manik, Ketua Bawaslu Prof Muhammad, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Ketua DPD RI Irman Gusman, Ketua Mahkamah Konstitusi RI Prof Arief Hidayat, mantan Presiden Indonesia Prof BJ Habibie, Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi, Mooryati Soedibyo dan sejumlah tamu undangan lainnya.

 Dia menerangkan bahwa sosok Jimly Asshiddiqie tidak bisa dilepaskan dari Mahkamah Konstitusi. Bahkan ketika MK ini sudah terjadi pergantian ketua sampai lima kali, namun masyarakat masih ada yang mengetahuinya bahwa Jimly masih sebagai ketua. “Saya pernah dinas ke daerah. Orang masih mengetahuinya MK itu adalah Pak Jimly. Saya sampaikan, saya adalah yang melanjutkan Pak Jimly,” candanya.

 Arif menambahkan, sebagai apresiasi atas dedikasi dan jasa terhadap Mahkamah Konstitusi, ia   akan menamakan salah satu ruangan di Gedung Mahkamah Konsituti dengan nama Ruang Prof Jimly Asshiddiqie.

 

Sumber : www.dkpp.go.id 

482x320_2154-thumbSenin, 18 April 2016
Wiranto: Pak Jimly Sebaiknya Menulis Rahasia Awet Muda

Panglima ABRI TNI Jenderal Wiranto periode 1998-1999 mengaku bersyukur pernah bertemu dengan Jimly Asshiddiqie.  Menurut dia, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari pertemannya dengan Jimly. Menurut Wiranto pemikiran Jimly brilian dan cerdas.

“Keunggulan seorang pemimpin itu memiliki, Physical Quotient, intelligence quotient, spiritual quotient, emotional quotient. Saya melihat keempat-empatnya dimiliki oleh Pak Jimly,” katanya ketika memberikan testimoni tentang sosok Prof Jimly Asshiddiqie pada rilis buku ketua DKPP yang juga ketua MK RI periode 2003-2008 itu di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Sabtu (16/4).

Dalam acara ini hadir Ketua DKPP Jimly Asshiddiqie dan keluarga, ketua KPU RI Husni Kamil Manik, Ketua Bawaslu Prof Muhammad, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Ketua DPD RI Irman Gusman, Ketua Mahkamah Konstitusi RI Prof Arief Hidayat, mantan Presiden Indonesia Prof BJ Habibie, Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi, Mooryati Soedibyo dan sejumlah tamu undangan lainnya.

Wiranto mengaku selalu mengikuti perkembangan tentang sosok Jimly. Pemikirannya selalu melakukan lompatan-lompatan dan berpikir jauh kedepan. “Istilah sekarang adalah out of the box,” katanya.

Satu hal lagi, yang membuatnya terkesan tetang sosok Jimly adalah wajahnya yang awet muda. Ia mengaku bertemu ketika Jimly membantu Presiden BJ Habibie, presiden ketiga, pada tahun 1998-1999.  

“Waktu itu, Pak Jimly membantu Pak Habibie. Sejak saya bertemu sampai sekarang, wajahnya ngga pernah berubah. Ngga pernah tua,” ujar dia.

 Wiranto pun menyarankan agar menulis buku tentang rahasia awet muda. Ia mengira buku-buku tentang hukum telah banyak ditulis. “Bu Moeryati Sudibyo sudah berumur 80 tahun tapi masih tetap muda dan selalu semangat. Ia memberikan tips, agar minum jamu. Saya kira Pak Jimly juga perlu menulis tetang rahasia awet muda,” tutup ketua umum DPP Partai Hanura itu. 

 

Sumber : www.dkpp.go.id 

482x320_2153-thumbSenin, 18 April 2016
Prof Jimly Telah Menulis 71 Buku

Sabtu 16/4 merupakan hari yang spesial bagi Prof Jimly Asshiddiqie, ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Bertepatan dengan usia yang keenampuluh Prof Jimly merilis dua buku. Hingga saat ini Prof Jimly telah menulis  71 buku. Buku-buku tersebut ditampilkan  di  Aula Lantai Dasar Gedung Mahkamah Konstitusi, Jalan Merdeka Barat No. 6, Jakarta.

 

Dalam acara ini hadir Ketua DKPP Jimly Asshiddiqie dan keluarga, ketua KPU RI, Ketua Bawaslu, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Ketua DPD Irman Gusman, mantan Presiden Indonesia Prof BJ Habibie, Mooryati Soedibyo, Menteri Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi Muhammad Nasir dan sejumlah tamu undangan lainnya.

 

“Ini adalah karya-karya saya, Pak Menteri. Buku-buku ini ada yang menjadi masterpiece, bacaaan wajib kuliah untuk mahasiswa hukum, dan lain-lain,” kata Jimly saat berbincang dengan Menteri Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi M. Nasir  di ruang display buku.

 

Lanjut dia, ia sampai tidak hafal judul-judul buku yang telah ditulisnya. Ada pula buku yang sangat langka. “Buku ini yang sangat jarang dibahas di Indonesia,“ saat menunjukkan buku Hukum Tata Negara Darurat terbitan Rajawali Pers.

 

Sambut Jimly, buku-buku yang ditampilkan bertujuan untuk menginspirasi kepada generasi muda untuk menulis. Pada acara rilis dua buku; 60 Tahun Jimly Asshiddiqie: Menurut Sahabat dan 60 Tahun Jimly Asshiddiqie: Sosok, Kiprah, dan Pemikiran. buku yang bertepatan dengan enampuluh tahun usia ini, Prof Jimly memotong nasi tumpeng untuk orang-orang yang spesial; Istri, Tutty Amaliah dan mantan Presiden Republik Indonesia Prof. B.J Habibie.

 

Sumber : www.dkpp.go.id 

482x320_2152-thumbSenin, 18 April 2016
Ketua DKPP Rilis Dua Buku

Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Prof. Jimly Asshiddiqie merilis buku 60 Tahun Jimly Asshiddiqie: Menurut Sahabat, dan 60 Tahun Jimly Asshiddiqie: Sosok, Kiprah, dan Pemikiran. Rilis buku ini  berlangsung di Aula lantai dasar Gedung Mahkamah Konstitusi, Jalan Merdeka Barat No. 6, Jakarta.  

 

Hadir keluarga Jimly Asshiddiqie, ketua KPU RI Husni Kamil Manik, Ketua Bawaslu Prof Muhammad, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Ketua DPD Irman Gusman, Presiden Indonesia ketiga, Prof BJ Habibie, Mooryati Soedibyo, dan sejumlah tamu undangan lainnya.

 

 60 Tahun Jimly Asshiddiqie: Sosok, Kiprah, dan Pemikiran berisi berupa biografi Jimly sekaligus sepak terjangnya di pentas nasional. Editor buku ini Nur Hidayat Sardini. Sedangkan buku 60 Tahun Jimly Asshiddiqie: Menurut Sahabat, berisi testimoni 70 orang tokoh-tokoh nasional yang dekat dengan Prof Jimly. Editor buku ini Nur Hidayat Sardini dan Gunawan Suswantoro.

 

Kedua buku ini sekaligus menjadi souvenir bagi para tamu undangan yang hadir. Pada kesempatan tersebut, ditampilkan juga sebanyak 71 buku-buku karya Prof Jimly Asshiddiqie.

 

Sumber : www.dkpp.go.id 

Baa740a0-ce67-448c-b6fb-11001ea60c49_169-thumbSabtu, 16 April 2016
Jimly Kritik Parpol: Enggak Usah Takuti Calon Independen

Sejumlah fraksi di DPR ingin aturan syarat calon independen dinaikkan dalam revisi Undang-undang Pilkada. Hal ini menuai kritikan dari berbagai pihak, salah satunya mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie.

Jimly mengatakan dengan syarat aturan yang ada saat ini, calon independen banyak yang tak berhasil.

"Calon independen yang berhasil tidak pernah lebih dari tiga persen yang berhasil. Jadi, tidak ada alasan bagi partai untuk mempersulitnya," kata Jimly di aula gedung MK, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Sabtu (16/4/2016).

Menurut Jimly keberadaan calon independen menjadi penyeimbang bila parpol tak mampu mengusung kadernya. Bila ada calon independen yang berhasil maka menjadi tantangan bagi partai politik untuk membenahi persiapan kadernya.

Dia pun meminta agar parpol tak takut dengan fenomena calon independen. 

"Nah, dengan begitu partai akan mendapat energi dari luar untuk memperbaiki diri. Sudahlah enggak usah ditakuti," sebut pakar hukum tata negara itu.

Kemudian, Jimly mengkritisi adanya calon tunggal karena masih banyak calon independen yang belum berhasil di samping parpol yang tak bisa persiapkan kader. "Kenapa kita muncul problem calon tunggal? Ya karena partai tidak punya calon alternatif di luar mekanisme partai. Nah, kalau semua calon itu dibeli semua sama partai, bagaimana?" sebutnya.

Jimly memahami bila dari segi kepentingan parpol bisa dimaklumi. Namun, jika terkait untuk kepentingan lebih besar, maka usulan perberat syarat independen merupakan upaya yang salah.

"Tapi, kalau dari perspektif kepentingan bangsa dan negara itu cara berpikir yang salah," tuturnya.

 

Sumber : www.detik.com 



CopyRight © jimly.com 2007 - 2008