Headercontent

Cari Buku

KONTEN
Buku14
Makalah44
Tanya Jawab2235
Kegiatan407
Liputan Media334
Galeri Foto2230


Anda Pengunjung Ke:
767058
September
SunMonTueWedThuFriSat
2930311234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293012
Foto_6-thumbRabu, 16 Juni 2010
Patrialis: Jimly Tak Perlu Izin SBY

Jakarta, RMOL. Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Jimly Asshiddiqie tidak perlu meminta izin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mencalonkan diri sebagai bakal calon pimpinan KPK.

"Di dalam UU, secara normatif tidak ada persyaratan izin seperti itu. Sehingga kami tidak bisa melebihi apa yang diatur UU. Jadi kami bicara normatif," ujar Ketua Panitia Seleksi Pimpinan KPK Patrialis Akbar kepada wartawan di Istana Negara, Jakarta (Selasa, 16/4).

Namun, jika dinyatakan terpilih sebagai Pimpinan KPK, Jimly atau pendaftar lain, wajib untuk mengundurkan diri dari jabatan sebelumnya.

"Setelah terpilih, siapapun yang terpilih bukan hanya pejabat negara, semua orang yang bekerja di manapun, apapun pekerjaannya harus mundur. 100 persen pengabdiannya untuk KPK," tegas Menteri Hukum dan HAM ini. [zul]

Laporan: Dede Heryawan

Foto_jimly_kompas_150610-thumbSelasa, 15 Juni 2010
Presiden Persilakan Jimly Ikuti Seleksi

Selasa, 15 Juni 2010 | 03:19 WIB

 

SELEKSI KETUA KPK

Jakarta, Kompas Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Emil Salim mengirimkan surat pemberitahuan terkait pendaftaran Jimly Asshiddiqie sebagai calon Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempersilakan Jimly mencalonkan diri apabila itu menjadi keinginannya dan mengikuti mekanisme dan persyaratan yang ditetapkan oleh undang-undang.

”Ketua Wantimpres berkirim surat kepada Presiden tentang Pak Jimly yang akan mendaftar menjadi pimpinan KPK,” ujar Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto seusai rapat di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (14/6).

Meski begitu, Djoko mengakui, seharusnya Jimly mengundurkan diri lebih dulu sebagai anggota Wantimpres sebelum mendaftarkan diri. Namun, pendaftaran Jimly pada saat terakhir pendaftaran, Senin, sebelum mundur dari Wantimpres, tidak akan dipermasalahkan.

Dalam rapat, Senin, menurut Djoko, Presiden juga sempat memantau perkembangan seleksi calon ketua KPK. Namun, Presiden tidak secara detail memantau siapa saja pendaftar calon ketua KPK dan menyerahkan sepenuhnya proses itu kepada panitia seleksi.

Secara terpisah, Jimly mengungkapkan, ia tidak memerlukan izin dari Presiden untuk pencalonan ketua KPK. Namun, Presiden tidak keberatan ia mundur dari Wantimpres jika terpilih sebagai ketua KPK.

Ketua Komisi Yudisial Busyro Muqoddas, yang mencalonkan diri sebagai ketua KPK, menyatakan, tak ada ketentuan undang-undang yang menentukan calon harus mundur dari jabatannya dalam pencalonan.

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar, yang juga Ketua Panitia Seleksi, mengatakan pula, tak ada ketentuan bagi pejabat negara atau pemimpin lembaga negara untuk mengundurkan diri kalau mencalonkan diri sebagai ketua KPK. ”Tetap bekerja seperti biasa asal bisa bagi waktu,” katanya.

Pada hari terakhir pendaftaran calon ketua KPK, Senin, pendaftar membeludak. Selain Jimly dan Busyro, sejumlah tokoh mendaftar. Mereka antara lain advokat Bambang Widjojanto, anggota DPD I Wayan Sudirta, dan Farouk Muhammad (mantan Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian). Sebelumnya ada pula Maria Ulfa Rombot dan Amir Hasan Ketaren dari Komisi Kejaksaan, serta advokat Sugeng Teguh Santosa, OC Kaligis, Dwi Ria Latifa, dan Petrus Selestinus.

Anggota Panitia Seleksi Pimpinan KPK Todung Mulya Lubis mengungkapkan, munculnya tokoh masyarakat itu membuktikan masih adanya harapan untuk menyelamatkan KPK. Pemberantasan korupsi memang berat sehingga perlu pengawalan ketat serta butuh pimpinan yang kuat, berani, dan tepercaya.

Hingga pukul 17.00, Panitia menerima 268 pendaftar, sebagian besar 29,1 persen, adalah advokat. (DAY/ANA/WHY/HAR)


63397-10165915062010_jimly-asshiddiqie-thumbSelasa, 15 Juni 2010
Jimly Didukung Aktivis Anti Korupsi Karena Yakin Bukan Titipan SBY
Selasa, 15 Juni 2010, 10:16:59 WIB
Laporan: Zul Hidayat Siregar

Jakarta, RMOL. Aktivis Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (Kompak) Ray Rangkuti mengaku tidak akan mendukung anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Jimly Asshiddiqie menjadi calon pimpinan KPK jika ada kepentingan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dibalik pendaftarannya tersebut.

"Kalau betul titipan, saya adalah orang pertama yang tidak akan mau mencalonkan dia. Itu juga yang saya tanyakan kepadanya tentang banyak kekuatiran orang," ujar Ray saat dihubungi Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Selasa, 15/6).

Kata Ray, dalam pertemuannya sebelum mendaftar, Jimly memang tidak membantah kekuatiran banyak kalangan tersebut secara eksplisit. Tapi, Jimly menantang Ray untuk melihat sendiri track record-nya selama ini.

"Saya yakin dia profesional. (Jimly) tidak mudah 'ditaklukkan' begitu saja. Ini bisa dilihat dari rekam jejaknya sewaktu Ketua MK. Banyak keputusannya yang revolusioner," ujar Ray.

Selain itu, tambah Ray, pernyataan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Djoko Suyanto kemarin (Senin, 14/6) soal pendaftaran Jimly, terkesan Djoko terkejut atas pencalonan Jimly tersebut. Hal ini semakin menegaskan bahwa Jimly bukan orang titipan. [zul]
1526511620x310-thumbSelasa, 15 Juni 2010
Dukungan untuk Jimly Mengalir
Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary
Selasa, 15 Juni 2010 | 09:01 WIB

Ketua DPR Marzuki Alie dan Wakil Ketua DPR Anis Matta, sama-sama memberikan respon positif terhadap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu. "Jimly punya kompetensi, menurut saya wajar kalau beliau ingin berbuat lebih kala ada permintaan. Pilihan itu sah-sah saja," kata Marzuki, di Gedung DPR, Jakarta, malam tadi.

Jimly dan Ketua Komisi Yudisial, Busyro Muqoddas, resmi mendaftarkan diri pada hari terakhir pendaftaran, kemarin. Keduanya merupakan dua dari lima nama yang diusung oleh Forum Rektor. "Memang beda kelas antara Jimly dengan dua ratus yang lain. Pansel juga kita harapkan mendapatkan figur yang bagus. Orang yang berani, punya karakter dan siap menanggung risiko. Kapasitas yang lain belum teruji," ujar Marzuki.

Sebagai mantan Ketua MK, Jimly dinilai cakap dan cukup pengalaman untuk dibawa saat berkarir di KPK. Apakah artinya DPR akan menyetujui jika Pansel mengusulkan nama Jimly? "Tergantung lah. Busyro bagus, KY dibawah kepemimpinannya hidup. Kita serahkan pada Komisi III yang memilih," ujar mantan Sekjen Partai Demokrat ini.

Dukungan secara lebih terbuka disampaikan Anis Matta. Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menilai, Jimly memiliki integritas keilmuan dan pengalaman dalam mengembangkan MK. "Jadi Pimpinan KPK itu yang dibutuhkan bukan cuma nyali tapi bagaimana mengembangkan lembaga dengan berbagai ide. Di KPK banyak yang punya nyali, tapi miskin ide. Jimly patut dipertimbangkan. Saya akan dukung Jimly," kata Anis.

68301_mantan_hakim_konstitusi__jimly_asshiddiqie_300_225-thumbSenin, 14 Juni 2010
Wantimpres Ikhlaskan Jimly Pindah ke KPK
Senin, 14 Juni 2010, 13:53 WIB

VIVAnews - Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Jimly Asshiddiqie, ikut meramaikan bursa pencalonan  pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi. Pencalonan ini mendapatkan dukungan dari teman-temannya di Wantimpres.

"Semua ikhlaskan saya demi menyelamatkan KPK," kata Jimly di Sekretariat Pansel KPK, di Gedung Kementerian Hukum dan HAM, Jakarta, Senin 14 Juni 2010.

Apakah mendapat restu juga dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono? Jimly enggan menjelaskannya. "Tidak perlu restu, yang penting Pak SBY mengizinkan," ujar mantan Hakim Konstitusi itu.

Jimly merupakan salah satu dari lima orang yang diusulkan Forum Rektor Indonesia untuk duduk sebagai pimpinan KPK. Selain Jimly, empat calon lainnya adalah Mahfud MD (saat ini menjabat Ketua Mahkamah Konstitusi), Prof Dr Hikmahanto Juwana (Guru Besar Hukum Universitas Indonesia), Prof Dr Saldi Isra (Guru Besar Hukum Universitas Andalas), dan Busyro Muqoddas, MHum (Ketua Komisi Yudisial).

Seleksi pimpinan KPK saat ini adalah untuk mencari pengganti Antasari Azhar yang diberhentikan dari jabatannya akibat terlibat kasus pembunuhan berencana. (umi)

Arry Anggadha, Fadila Fikriani Armadita


CopyRight © jimly.com 2007 - 2008